fokus, prioritas, dan bersungguh – sungguh

bersungguh - sungguh

Saya sebener – benernya masih terus memahami akan sebuah fokus dan prioritas. Bagaimana sesuatu hal tersebut menjadi fokus kita, atau mengapa hal tersbut menjadi prioritas kita.

Pernah kepikiran aja, untuk menjadikan ‘sesuatu’ menjadi suatu prioritas diri ini, ialah dimana dibutuhkan keberadaan (peranan) saya untuk keberlangsungan ‘sesuatu’ tersebut? Namun apakah saya salah jika suatu ketika keterbutuhan keberadaan saya itu tidak sesuai dengan yang saya inginkan, lalu dengan pilihan beresiko saya memilih keinginan saya? Karena kalaupun saya memilih berdasarkan azas keterbutuhan itu belum tentu saya tahu saya mampu melakukan apa atas ‘sesuatu’ tersebut.  Mungkin kondisi ini dibutuhkan sebuah fokus.

Saya fikir, Fokus tidak hanya dapat dengan sengaja kita tentukan. Terkadang kondisi – kondisi tertentu membuat kita tampa sadar mempergunakan insting untuk menjaga fokus tersebut tetap berada dalam diri ini.

Lalu, pernyataan selanjutnya, mengenai ketidak-prioritasan. Saya sering heran jika seseorang mengatakan tentang ketidak-prioritasaannya dalam sesuatu hal, lalu menghilang begitu saja, terbang entah menggapai langit lainnya, tidak mau terlihat secuilpun yang berkaitan dengan yang sesuatu yang tidak-diprioritaskan itu. Kalo pun terlibat hanya setengah hati. Ketidak-prioritasan itu bukan berarti ketidak-sungguhan, bukan?

Kesungguhan bagi saya adalah suatu tindakan yang asalnya dari hati, dan kesungguhan tidak (selalu) menuntut sebuah prioritas atau yang tidak-prioritas. Kesungguhan mampu merealisasikan ‘sesuatu’ yang mungkin menjadi mungkin, dan mampu memberikan kepuasan tersendiri untuk sebuah hasil, sekalipun hasilnya tidak sesuai dengan pengharapan.

Sayangnya dalam sebuah mekanisme kerja, saya sudah-sangat-jarang merasakan kesungguhan, entak subjektifitas diri atau apa, namun saya rasa kesungguhan memang sulit terukur secara objektif. Saya masih berharap dan berdoa untuk menemukan kembali kesungguhan itu. Semoga saja.[]

Advertisements

2 thoughts on “fokus, prioritas, dan bersungguh – sungguh

  1. kepikiran kinerja saya di kastil ya, teh? ^^
    antara GR sama sadar diri ni, teh 😛

    dilema ini dari dulu emang jadi masalah saya.
    saya masih punya kebiasaan untuk ga bisa ngerjain sesuatu yg produktivitasnya ga maksimal/setengah2.
    akhirnya, pasti bawaan hati juga jadi setengah2.

    saya tau itu salah, makanya sekarang lagi berusaha untuk mengesampingkan perasaan kaya gitu.
    mungkin gara2 pikiran idealis saya, jadinya kaya gitu.

    yah, doain aja saya bisa lebih realistis dengan totalitas yang baik. semoga.. insya Allah..

    • Kyaaa…kyaaaa, ada Tanriii *Plaaakkk! heu ;p*

      Meski kalimat ‘saya masih punya kebiasaan untuk ga bisa ngerjain sesuatu yg produktivitasnya ga maksimal/setengah2.’ susah ditranslit make bahasa ghea, dont worry be happy, ghea emang baik hati n bersinar seanjang hari, hahahhaa ;p

      Amiiiiiiin, Amiiiiiiiin semoga saudaraku ini selalu dalam lindungan Allah,

      Oh yah! Blog ini ketulis abis ghea ngedit ‘foto kumbang lagi naik pohon’ itu. Terharruuuu aja, kayaknya kumbang itu sungguh – sungguh banget buat naik pohon itu. Terus jadi kepikiran mo nulis ttg ‘fokus, dan prioritas yang gak dibarengin dengan kesungguhan’.hihihihi

      Semoga isinya gak bikin Tanri pundung ke Ghea, hahaha, Pissss V^v^ wee!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s