Dalam Gerbong Kotak Menuju Kota 9 Tahun Kenangan

Waktu ini, saat saya berada dalam gerbong kotak yang akan membawa saya menuju kota 9 tahun kenangan.  Banyak yang saya renungkan.

Hari ini dan kemarin,  mungkin karena menemukan nadir, gairah kerja saya menurun. Produktivitas tanggung, karya saya hanya diam mematung. Rasanya bagai digerumuti kelelahan dan kemalasan. Kegamangan yang berkulminasi kekesalan, mengkambing hitamkan sistem dan atasan. Padahal pada akhirnya, yang paling bertanggung jawab dari keluh kesah diri saat ini adalah saya, hanya saya. Titik. Ah, saya benar-benar tidak suka dengan keadaan ini.

Dan waktu ini membuka banyak kenangan. Badan saya hanya diam, namun pikiran ini melayang. Menikmati pemandangan hijau karya Tuhan, diiringi wangi dimsum tetangga dan gelak tawa kaum adam dibelakang. Ada juga deru mesin gerbong kotak.

Menyadari, 2 hari yang saya alami ini hanya sebagian kecil dari puluhan hari masa depan yang mungkin saya lewati. Cukup saja 2 hari ini, tidak boleh lebih dan terulang lagi. Cukup saja 2 hari ini, sebagai kenangan menemukan nadir.

Bersyukurlah, karena otak dan oto masih bekerja, karena jiwa masih bersama, karena takdir masih ada.
Bergembiralah, karena bumi masih berputa, matahari masih bersinar, dan kehidupan masih datang.
Atas nama Tuhan yang menciptakan manusia sebagai penguasa kerajaan dunia, sebagai pembawa kebaikan bagi semesta.

#maafinsayakarenakesal, maafinsayakarenaberburuksangka

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s