Kehidupan dan kesadaran komposmentis, oksigen dan adiksi

The stupid part of me today adalaaah, betapa dudulnya says gak menyimpan rekaman presentasi konsulen saya. Kyaaaaaaaa!!! -_____-;; Rubuhin monasss!!!

Padahal udah niat dari jauh-jauh hari buat ngerekam presentasi beliau, untuk topik yang satu ini. Udah dari malemnya nyiapin recorder. Udah juga diteken itu tombol recorder pas beliau  mulai presentasi, saya juga ngerekam sesi diskusinya. Saya juga udah neken tombol stop nya.

….

Saya gak mengerti, apa karena tadi lagi rariweuh, apa karena hipoglikemi makanya konsentrasi dan kesadaran saya menurun, apa karenaa???

Terus, malam ini giliran saya mau typing filenya gak ada. GAK ADA.

Setelah ingatan merunut. Ternyata, tadi saya langsung shut down recordernya

Ya Allah,

Pengen marah, tapi kalopun saya mau marah, ya marah sama diri sendiri.

Ngomel, ya ngomelin diri sendiri.

Huhuhuhu, sedih. Kenapa masih ajaa selebor….

Hidup tuh harus sadar, Ghe. Jangan cuma menghirup oksigen atau buang karbon doang, atau menuh-menuhin perut terus kentut. HIDUP dengan KESADARAN KOMPOSMENTIS. yosh!

Ohyak,

jadi ingin bercerita tentang oksigen…

Sering kali kita menyamakan oksigen itu dengan kehidupan, nyatanya…

“Apapun yang terpapar oksigen, pasti akan mengalami penuaan.” (NW: 2014)

Heuheu, ;p Lihat aja kalo besi terkena oksigen, berkarat kan yak. Kalo itu dianalogiin ke manusia?

Kalo yang saya pahamin dari konsulen saya gini. Manusia itu melahirkan karena ada reaksi oksidatif stres di sirkulasi materna-fetal, yang menstimulasi uterus untuk mengeluarkan fetus dan ari-ari-nya. Kenapa bisa seperti itu? takdir Tuhan, tapi kalo mau dipikirin, butuh pencarian lanjut.

Oksidatif stress, fetus terlahirkan, dan dengan menangis, fetus terpapar oksigen. Terus fetus jadi anak, remaja, dewasa, dan pada akhirnya tua.  Jadi manusia yang menghirup oksigen, sama saja dengan bunuh diri perlahan-lahan. Menjadi tua, kemudian meninggal. Mirip kayak besi, lama-lama berkarat, rapuh, keropos dan patah. Persiapkan diri anda! 😉

Kalo dari pernyataan tentang oksigen itu, saya jadi kepikiran tentang adiksi…

Konsep adiksi mengusung perilaku repetitif meskipun memuat risiko. Kayak rokok, alkohol, uang, bahkan sex, yang cukup mampu membuat manusia menyikapinya dengan adiktif. Yang semisalnya dihilangkan akan menimbulkan efek tidak-bisa-hidup. Alih-alihnya malah jadi kebutuhan.

Tipis yak? Sesuatu karena kita emang butuh atau karena kita adiksi.

Melalui oksigen, Tuhan ngajarin saya tentang adiksi ;D, subhanallah….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s